Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Tampilkan postingan dengan label Berita Manca Negara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Manca Negara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

Nelayan Korban Tsunami Suka Sambal Indonesia

Nelayan Korban Tsunami Suka Sambal Indonesia

Tim Indonesia Peduli Tohoku
Selasa, 10 Mei 2011 20:09 WIB
Tim “Indonesia Peduli Tohoku” dengan personil sebanyak 8 orang yang merupakan gabungan dari beberapa ormas (PKPU, Forkita, KAMMI Jepang, FG-Asmara, IPTIJ, FLP Jepang, Fahima, AMIR Malaysia) bekerja sama dengan KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) Jepang, PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jepang, ATC, MRA (Malaysian Relief Agency) dan MIIAS (Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan) kembali melakukan aksi sosial menghidangkan makan siang berupa makanan khas Indonesia, Nasi Goreng Spesial, kepada lebih dari 120 pengungsi tsunami di daerah Ishihama, hari Rabu, 4 Mei 2011.

Ishihama merupakan salah satu daerah tepi pantai di kawasan Minamisanrikucho, Miyagi Prefecture, Jepang, yang beberapa waktu lalu luluh lantak dilanda gelombang tsunami. Dikabarkan daerah ini sempat terisolasi untuk beberapa waktu sehingga bantuan dari luar tidak dapat tersalurkan kepada para pengungsi di sana dikarenakan jalan penghubung ke daerah tersebut rusak parah.

Berdasarkan catatan pemerintah Jepang, setidaknya lebih dari 14 ribu orang dinyatakan tewas dan lebih dari 11 ribu orang lainnya dinyatakan hilang akibat bencana yang mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011 ini.

Sekitar dua bulan sejak gempa dan tsunami terjadi, keadaan pengungsi maupun perumahan di daerah ini berangsur membaik. Para pengungsi terlihat mulai menempati rumah-rumah mereka kembali. Namun sayangnya infrastruktur penopang kehidupan seperti listrik dan air masih jauh dari kata pulih.

Untuk menyimak berita televisi dan menikmati terangnya lampu di malam hari, penduduk harus berkumpul di balai warga, satu-satunya tempat di mana listrik bisa didapat dari generator listrik berdaya kecil. Pasokan bahan makanan dari luar begitu diharapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan para pengungsi yang sebagian besar dari mereka bermata pencaharian sebagai nelayan.

Di tengah goyangan lidah para pengungsi menyantap nasi goreng spesial lengkap dengan telur mata sapi, sosis dan timunnya, mengalir cerita-cerita seputar kesibukan mereka membersihkan puing-puing akibat bencana. Ternyata belum banyak tenaga sukarela dari luar yang datang hari itu untuk membantu. Mereka sangat berharap akan ada banyak tenaga sukarela yang mau bekerja bersama mereka sehingga proses pemulihan daerah tersebut segera terwujud.

Di antara sekian banyak pengungsi berusia lanjut, ada sesosok pengungsi mungil yang selalu terlihat ceria makan bersama keluarganya, Satou Miu Chan (panggilan akrab anak perempuan) yang sejak April 2011 ini terhitung naik kelas 5 SD. SD Natari tempat Miu Chan bersekolah dulu sudah tak dapat berfungsi lagi karena hancur diterjang tsunami.  Sehingga Miu Chan harus mengalah untuk pindah ke sekolah yang agak jauh yang masih selamat dari amukan ombak bencana.

Obrolan santai dengan para pengungsi mengalir menyelingi aktifitas-aktifitas bantuan, seperti menghangatkan air bak mandi pengungsi, membagikan air mineral dan sayuran kepada keluarga di sekitar pengungsian. Dari beberapa obrolan tersebut, ternyata beberapa di antara pengungsi mempunyai pengalaman berlayar ke Indonesia, sebagian lain mempunyai pengalaman bekerja bersama pelaut atau pekerja dari Indonesia. Dan menariknya beberapa ibu-ibu di sana ternyata penggemar sambal Indonesia. Beberapa botol sambal yang dibawa dari Tokyo akhirnya diberikan kepada ibu-ibu ini.

Kehangatan dan kebersamaan menyelimuti aktifitas dari pagi hingga siang hari, hingga tiba saatnya tim untuk undur diri. Beberapa bingkisan untuk anak-anak pengungsi berisi jajanan dan pin persahabatan serta pesan penggugah diberikan kepada kepala pengungsian, Ibu Sato Masako. Tidak lupa juga satu kotak kardus penuh berisi paket bumbu dapur dan juga selembar karton Yosegaki (kumpulan coretan pesan penyemangat) dari masyarakat Indonesia di Tokyo diserahkan oleh pimpinan rombongan Yonanda Adhitama, perwakilan Forkita yang dulu pernah kuliah di Tohoku University.

Tim tidak pulang dengan tangan hampa, karena cinderamata berupa pelampung yang terbuat dari kaca yang dibalut oleh ikatan tali yang menyelimutinya semakin menunjukkan betapa eratnya persahabatan yang terjalin antara masyarakat kedua negara.
 
Salah seorang relawan anggota tim, Mohamad Darussalam, yang sehari-harinya bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia Tokyo mengungkapkan kesannya yang begitu mendalam akan keakraban yang sangat terasa dalam aktifitas kemanusiaan antara masyarakat Indonesia dan Jepang ini, sehingga berharap untuk bisa bergabung dalam aktifitas sosial ini kembali di masa datang.

Relawan lainnya, Miyasaka Ippei, yang notabene adalah orang Jepang yang menikah dengan orang Indonesia merasa sangat beruntung sekali bisa menyaksikan dari dekat begitu kuatnya ikatan persaudaraan antara orang Indonesia dan Jepang. Bahkan momen kepulangan tim Indonesia Peduli Tohoku ini tidak lepas dari titikan air mata beberapa pengungsi, diiringi dengan bungkukan badan yang begitu mendalam sebagai ungkapan rasa terima kasih.

Deddy Nur Zaman
Mahasiswa Universitas Tokyo, anggota Tim ”Indonesia Peduli Tohoku”
Foto-foto: Miyasaka Ippei

Senin, 09 Mei 2011

Jerman Butuh Pekerja Pertanian Indonesia

Eman Suparno: "Jerman saat ini gencar membuka pekerjaan di perkebunan dan pertanian."

VIVAnews - Jerman dan Indonesia akan menjajaki kerja sama investasi di sektor perkebunan dan pertanian, terutama dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kerja.

Demikian disampaikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Tenaga Kerja dan Sosial Jerman Olaf Scholz di Postdam Jerman, Senin petang waktu setempat, 16 Maret 2009.

"Jerman saat ini sedang gencar membuka green job atau pekerjaan di sektor perkebunan dan pertanian," katanya dalam keterangan pers yang diterima VIVAnews.

Di negara tersebut, dia menambahkan, sedang ada kebutuhan yang relatif besar pada pekerja di sektor tanaman gandum dan kayu, karena kebutuhan akan kedua komoditi tersebut sedang meningkat.

"Para pengguna jasa di Jerman senang mempekerjakan TKI formal yang terlatih (skilled labour), karena mereka memiliki kompetensi, disiplin, dan tidak banyak bermasalah, meski kondisi industri di negara itu relatif turun," katanya.

Selain itu, pertemuan bilateral tersebut juga menyepakati dibukanya program pemagangan tenaga kerja melalui asosiasi pengusaha di kedua negara sebagai upaya alih teknologi dan informasi.

"Program pemagangan ini mudah untuk direalisasikan karena kriterianya jelas dan pemagang terdata dengan baik, apalagi para pemagang akan diberikan gaji dan akomodasi selama menjalankan proses magang kerja," kata Erman.
Sebagai tindak lanjut, dia menambahkan, asosiasi pengusaha kedua negara akan segera bertemu untuk membicarakan dan menentukan sektor-sektor yang bisa direalisasikan dalam program pemagangan.

Pertemuan bilateral tersebut dilakukan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi The Asia-Europe Meeting (ASEM)mengenai Corporate Social Responsilbility (CSR)  yang diselenggarakan pada 16-22 Maret 2009 di Potsdam, Jerman.

Petani di Asia Tenggara Rentan Kelaparan


“Tekanan terbesar para petani adalah mereka bercocoktanam untuk ekspor"
VIVAnews - Para petani di Asia Tenggara kerap terancam kelaparan, padahal mereka rutin bercocok aneka tanaman pangan. Situasi ini muncul karena mereka berada di bawah tekanan untuk memenuhi target ekspor dan tidak bisa memenuhi kebutuhan pribadi secara mandiri.

Fakta ini dikemukakan dalam diskusi bidang agrikultur pada ASEAN Civil Society Conference/ Asean People’s Forum (ACSC/APF), 4 Mei 2011, di Jakarta. Forum itu diikuti perwakilan masyarakat dan kalangan pegiat dari anggota Perhimpunan Negara Asia Tenggara (ASEAN).

“Tekanan terbesar para petani adalah mereka bercocoktanam untuk ekspor. Sementara mereka sendiri tidak punya ketahanan pangan dan akhirnya seringkali harus membeli dari pasar,” kata Arze Glipo, pegiat dari lembaga Asia-Pacific Network on Food Sovereignity, dalam pernyataan untuk publik.

Ketahanan pangan para petani makin buruk terutama karena mereka sendiri juga tedesak krisis lahan yang kini terjadi di Asia Tenggara. Peningkatan jumlah penduduk dan ekspansi perusahaan kerap membuat para petani kehilangan lahan dan terpaksa bekerja sebagai buruh kontrak.

Di Indonesia saja, menurut hasil diskusi itu, investor asing tercatat menguasai 1,3 juta lahan pertanian, yang kerap berasal dari lahan hutan. Para investor ini, menurut Indonesian Peasant Alliance (API), umumnya menggeser industri perumahan dengan industri pangan raksasa mereka.

Sementara di Filipina, konglomerasi pangan yang berafiliasi dengan investor Malaysia menanamkan dana US $ 1 miliar untuk mengembangkan 1 juta hektar tanah pertanian padi dan jagung. World Food Programme juga memperkirakan 37 persen anak di Laos mengalami kekurangan gizi.

Ancaman lain bagi para petani di kawasan ini juga datang dari rencana para anggota negara ASEAN menerapkan sistem perdagangan bebas. Glipo menyatakan perdagangan bebas akan membuat semakin banyak petani menanam pangan untuk pasar ekspor dan juga semakin tergantung mendapatkan pangannya sendiri dari pasar. Jadi mereka juga pada saat yang sama sangat rentan dengan naik-turunnya harga pangan.

“Solusinya sebenarnya sederhana. Kita harus menegaskan regulasi bagi para investor di sektor lahan termasuk investor asing,” kata Glipo. Ini berarti ASEAN harus menerapkan reformasi kebijakan lahan dan lebih mengutamakannya para petani kecil untuk melindungi hak atas pangan bagi seluruh rakyat di Asia Tenggara. (eh)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates